BAB 1
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Kewirausahaan
(Entrepreneurship) adalah proses mengidentifikasi, mengembangkan, dan membawa
visi ke dalam kehidupan. Visi tersebut bisa berupa ide inovatif, peluang, cara
yang lebih baik dalam menjalankan sesuatu. Hasil akhir dari proses tersebut
adalah penciptaan usaha baru yang dibentuk pada kondisi risiko atau
ketidakpastian.
Wirausaha
secara historis sudah dikenal sejak diperkenalkan oleh Richard Castillon pada
tahun 1755. Beberapa istilah wirausaha seperti di Belanda dikenadengan
ondernemer, di Jerman dikenal dengan unternehmer. Pendidikan kewirausahaan
mulai dirintis sejak 1950-an di beberapa negara seperti Eropa, Amerika, dan
Kanada. Bahkan sejak 1970-an banyak universitas yang mengajarkan kewirausahaan
atau manajemen usaha kecil. Pada tahun 1980-an, hampir 500 sekolah di Amerika
Serikat memberikan pendidikan kewirausahaan. DI Indonesia, kewirausahaan
dipelajari baru terbatas pada beberapa sekolah atau perguruan tinggi tertentu
saja. Sejalan dengan perkembangan dan tantangan seperti adanya krisis ekonomi,
pemahaman kewirausahaan baik melalui pendidikan formal maupun
pelatihan-pelatihan di segala lapisan masyarakat kewirausahaan menjadi
berkembang.
Pertumbuhan penduduk di Indonesia sangat
pesat menuntut pemerintah untuk menyediakan lapangan pekerjaan. Menurut data
statistik BPS tahun 2010 Jumlah penduduk Indonesia pada tahun 2010 adalah
sebanyak 237.641.326 jiwa. Sedangkan menurut Bank Dunia jumlah penduduk
indonesia tahun 2015 ini akan menjadi 252.370.792 jiwa. Sementara pemerintah
belum mampu mengimbangi dengan penyediakan lapangan pekerjaan. Oleh karena itu,
masyarakat di Indonesia harus diubah agar tidak lagi menjadi pencari kerja,
tetapi ikut berperan serta menjadi penyedia lapangan kerja baik bagi dirinya
sendiri maupun bagi masyarakat luas. Menjadi wirausaha merupakan solusi menuju
kemandirian bangsa. Jumlah wirausaha di Indonesia masih sangat rendah jika
dibandingkan dengan jumlah wirausaha di negara lain. Jumlah wirausaha di
Indonesia baru mencapai 0,24 persen dari jumlah penduduk di Indonesia yang
sekitar 238 juta jiwa. Jumlah itu lebih rendah dibandingkan dengan jumlah
wirausaha di beberapa negara luar yang tingkat pertumbuhan ekonominya tinggi.
Jumlah wirausaha di Amerika Serikat sekitar 11 persen, di Singapura mencapai 7
persen, dan di Malaysia mencapai 5 persen. Kalau Indonesia ingin menjadi negara
yang maju harus mengembangkan sektor wirausaha, minimal mempunyai wirausahawan
sebesar 2 persen dari jumlah penduduk. Melihat perbandingan jumlah wirausaha di
negara maju dengan jumlah wirausaha di Indonesia, maka wajar jika pertumbuhan
perekonomian di Indonesia juga masih lambat. Oleh karena itu, generasi muda
bangsa harus mengembangkan sektor kewirausahaan dengan mendorong mereka menjadi
wirausaha, sehingga jumlah wirausaha di Indonesia meningkat agar dapat berperan
dalam mendukung ekonomi negara menuju kemandirian bangsa. Jumlah wirausaha di
Indonesia masih perlu ditingkatkan karena dianggap masih sangat rendah sehingga
tidak dapat mendukung tumbuhnya perekonomian di Indonesia. Pemerintah Indonesia
sedang berfokus meningkatkan jumlah wirausaha agar dapat berperan dalam
mendukung ekonomi negara agar lebih maju pada masa mendatang Pertumbuhan jumlah
wirausaha dan usaha kecil perlu didukung oleh lembaga pendidikan, termasuk
perguruan tinggi. Perguruan tinggi berperan sangat penting dalam memotivasi
lulusannya menjadi seorang wirausahawan muda, untuk meningkatkan jumlah
wirausahawan di Tanah Air. Meningkatnya wirausahawan dari kalangan sarjana akan
mengurangi pengangguran bahkan menambah jumlah lapangan pekerjaan. Angkatan
kerja yang baru lulus perguruan tinggi dapat menciptakan lapangan kerja sendiri
sehingga bisa menjadi solusi untuk mengurangi pengguran. Pendidikan memang
penting untuk memberi modal dasar bagi para wirausahawan. Melalui jalur
pendidikan dapat mengubah pola pikir seseorang untuk menjadikan wirausahawan
yang bekerja dengan menggunakan ide dan kreativitas. Pihak perguruan tinggi dan
stakeholders bertanggung jawab dalam mendidik dan memberikan kemampuan dalam
melihat peluang bisnis serta mengelola bisnis tersebut serta memberikan
motivasi untuk mempunyai keberanian menghadapi risiko bisnis. Peran perguruan
tinggi dalam memotivasi para sarjananya menjadi young entrepreneurs merupakan
bagian dari salah satu faktor pendorong pertumbuhan kewirausahaan.
Orang
yang melakukan kegiatan kewirausahaan disebut wirausahawan. Muncul pertanyaan
mengapa seorang wirausahawan (entrepreneur) mempunyai cara berpikir yang
berbeda dari manusia pada umumnya. Mereka mempunyai motivasi, panggilan jiwa,
persepsi dan emosi yang sangat terkait dengan nilai nilai, sikap dan perilaku
sebagai manusia unggul.
Pada
makalah ini dijelaskan tentang pengertian, hakekat, dan Perilaku wirausaha dalam
perekonomian.
B. Rumusan Masalah
1. Apa saja
Perilaku Wirausaha
2. Bagaimana
wirausaha dapat berperilaku
3. Hakekat
Wirausaha
C. Tujuan
1. Dapat Memahami
dan mengetahui perilaku wirausaha
BAB II
PEMBAHASAN
A. PENGERTIAN
KEWIRAUSAHAAN
Berasal
dari kata enterpteneur yang berarti orang yang membeli barang dengan harga
pasti meskipun orang itu belum mengetahui berapa harga barang yang akan dijual.
Wirausaha sering juga disebut wiraswasta yang artinya sifat-sifat keberanian,
keutamaan, keteladanan dalam mengambil resiko yang bersumber pada kemampuan
sendiri. Meski demikian wirausaha dan wiraswasta sebenarnya memiliki arti yang
berbeda . Wiraswasta tidak memiliki visi pengembangan usaha sedangkan wirausaha
mampu terus berkembang dan mencoba usaha lainnya. Istilah lainnya yang semakna
dengan wirausaha adalah wiraswasta. Istilah wiraswasta lebih sering dipakai dan
lebih dikenal daripada wirausaha. Padahal, keduanya bermakna sama dan merupakan
padanan dari kata entrepreneur. Kata wiraswasta berasal dari gabungan
wira-swa-sta dalam bahasa sansekerta. Wira berarti utama, gagah, luhur, berani,
teladan, atau pejuang; swa berarti sendiri atau mandiri; sta berarti berdiri;
swasta berarti berdiri ditas kaki sendiri atau dengan kata lain berdiri di atas
kemampuan sendiri. Sedangkan wirausahawan mengandung arti secara harfah, wira
berarti berani dan usaha berarti daya upaya atau dengan kata lain wirausaha
adalah kemampuan atau keberanian yang dimiliki oleh seseorang untuk melihat dan
menilai kesempatan bisnis, mengumpulkan sumber daya yang dibutuhkan untuk
mengambil tindakan yang tepat dan mengambil keuntungan dalam rangka meraih
kesuksesan.
Berdasarkan
makna-makna tersebut, kata wiraswasta atau wirausaha berarti pejuang yang
gagah, luhur, berani dan pantas menjadi teladan di bidang usaha. Dengan kalimat
lain, wirausaha adalah orang-orang yang mempunyai sifat-sifat kewiraswastaan
atau kewira-usahaan. Ia bersikap berani unuk mengambil resiko. Ia juga memiliki
leutamaan, kreatifitas, dan teladan dalam menangani usaha atau perusahaan.
Keberaniannya berpijak pada kemampuan sendiri atau kemandiriannya. Pengertian
lainnya menyebutkan kewirausahaan adalah proses menciptakan sesuatu yang lain
dengan menggunakan waktu dan kegiatan disertai modal dan resiko serta menerima
balas jasa dan kepuasan serta kebebasan pribadi.
Kewirausahaan
memiliki arti yang berbeda-beda antar para ahli atau sumber acuan karena
berbeda-beda titik berat dan penekanannya.
Richard
Cantillon (1775) misalnya, mendefinisikan kewirausahaan sebagai bekerja sendiri
(self-employment). Seorang wirausahawan membeli barang saat ini pada harga
tertentu dan menjualnya pada masa yang akan datang dengan harga tidak menentu.
Jadi definisi inikewirausahaan adalah lebih menekankan pada bagaimana seseorang
menghadapi risiko atau ketidakpastian. Berbeda dengan para ahli lainnya,
menurut Penrose (1963) kegiatan kewirausahaan mencakup indentfikasi
peluang-peluang di dalam sistem ekonomi sedangkan menurut Harvey Leibenstein
(1968, 1979) kewirausahaan mencakup kegiatan yang dibutuhkan untuk menciptakan
atau melaksanakan perusahaan pada saat semua pasar belum terbentuk atau belum
teridentifikasi dengan jelas, atau komponen fungsi produksinya belum diketahui
sepenuhnya dan menurut Peter Drucker, kewirausahaan adalah kemampuan untuk
menciptakan sesuatu yang baru dan berbeda.
Menurut
Dan Steinhoff dan John F. Burgess (1993:35) wirausaha adalah orang yang
mengorganisir, mengelola dan berani menanggung resiko untuk menciptakan usaha
baru dan peluang berusaha. Secara esensi pengertian entrepreneurship adalah
suatu sikap mental, pandangan, wawasan serta pola pikir dan pola tindak
seseorang terhadap tugas-tugas yang menjadi tanggungjawabnya dan selalu
berorientasi kepada pelanggan. Atau dapat juga diartikan sebagai semua tindakan
dari seseorang yang mampu memberi nilai terhadap tugas dan tanggungjawabnya.
Adapun kewirausahaan merupakan sikap mental dan sifat jiwa yang selalu aktif
dalam berusaha untuk memajukan karya baktinya dalam rangka upaya meningkatkan
pendapatan di dalam kegiatan usahanya. Selain itu kewirausahan adalah kemampuan
kreatif dan inovatif yang dijadikan dasar, kiat, dan sumber daya untuk mencari
peluang menuju sukses.
Inti
dari kewirausahaan adalah kemampuan untuk menciptakan seuatu yang baru dan
berbeda (create new and different) melaui berpikir kreatif dan bertindak
inovatif untuk menciptakan peluang dalam menghadapi tantangan hidup. Pada
hakekatnya kewirausahaan adalah sifat, ciri, dan watak seseorang yang memiliki
kemauan dalam mewujudkan gagasan inovatif kedalam dunia nyata secara kreatif.
B. HAKEKAT
WIRAUSAHA
Dari
beberapa konsep yang ada ada 6 hakekat penting kewirausahaan sebagai berikut (
Suryana,2003 : 13), yaitu :
1.
Kewirausahaan adalah suatu nilai yang diwujudkan dalam perilaku yang dijadikan
dasar sumber daya, tenaga penggerak, tujuan, siasat, kiat, proses, dan hasil
bisnis (Acmad Sanusi, 1994).
2.
Kewirausahaan adalah suatu kemampuan untuk menciptakan sesuatu yang baru dan
berbeda (ability to create the new and different) (Drucker, 1959).
3.
Kewirausahaan adalah suatu proses penerapan kreativitas dan inovasi dalam
memecahkan persoalan dan menemukan peluang untuk memperbaiki kehidupan
(Zimmerer. 1996).
4.
Kewirausahaan adalah suatu nilai yang diperlukan untuk memulai suatu usaha
(start-up phase) dan perkembangan usaha (venture growth) (Soeharto Prawiro,
1997).
5.
Kewirausahaan adalah suatu proses dalam mengerjakan sesuatu yang baru
(creative), dan sesuatu yang berbeda (inovative) yang bermanfaat memberi nilai
lebih.
6.
Kewirausahaan adalah usaha menciptakan nilai tambah dengan jalan
mengkombinasikan sumber-sumber melaui cara-cara baru dan berbeda untuk
memenangkan persaingan. Nilai tambah tersebut dapat diciptakan dengan cara
mengembangkan teknologi baru, menemukan pengetahuan baru, menemukan cara baru untuk
menghasilkan barang dan jasa yang baru yang lebih efisien, memperbaiki produk
dan jasa yang sudah ada, dan menemukan cara baru untuk memberikan kepuasan
kepada konsumen.
C. PERILAKU
WIRAUSAHA
·
Perilaku
Wirausaha
Perilaku
dan sikap tidak bisa dipisahkan untuk menjadi lebih sempurna karena
kedua-duanya memiliki karakteristik yang berbeda. Sikap itu cara pandangan dan
pola piker ( mindset ) atas hal-hal yang dihadapinya, seperti rasa takut,
kesulitan, cobaan, kritik, saran, tekan, dan hambatan yang mendasari sebuah
tindakan. Sedangkan perilaku adalah tidakan dari kebiasaan atas kebenaran yang
ia pegang teguh.
1. Perilaku wirausahawa secara individu
1. Jujur
2. Memiliki rasa percaya diri
· Teguh Pendiriannya
· Tidak tergantung pada orang lain
· Berkepribadian yang baik
· Optimis terhadap pekerjaannya
3. Berorientasi pada tugas dan hasil
· Haus akan prestasi
· Berorientasi pada laba/hasil
· Ketekunan dan ketabahan
· Mempunyai dorongan kuat, motivasi
tinggi dan kerja keras
4. Pengambilan resiko
· Enerjik dan berinisiatif
· Kemampuan mengambil resiko
· Suka pada tantangan
5. Kepemimpinan
· Bertingkah laku sebagai pemimpin
· Dapat menanggapi saran-saran dan
kritik
· Dapat bergaul dengan orang lain
6. Keorisinilan
· Inovatif,Kreatif, dan Fleksibel
· Serba bias dan mengetahui berbagai
hal
· Mempunyai banyak sumber pengetahuan
7. Berorientasi ke masa depan
· Memiliki pandangan kemasa depan
· Optimis Memandang masa depan
2. Perilaku wirausaha secara social dan
lingkungan
a. Berpenampilan rapi dan ingin disukai
oleh setiap orang.
b. Berperilaku baik sehingga banyak
orang yang menyukainya.
c. Senang memotivasi orang lain untuk
tujuan yang baik.
d. Menjadi teladan bagi teman
bisnisnya, karyawan, dan pelanggannya.
e. Padai bergaul dan cakap dalam
berkomunikasi sehingga banyak orang yang senang dengannya.
3. Perilaku wirausaha dalam pekerjaan
a. Berorientasi pada tujuan dan tetap
keinginan kuat pada hasil yang sempurna.
b. Bila kerja ( workaholic ) dan
bekerja dengan baik sehingga tidak menyukai kelemahan ( perfectionist )
c. Tidak suka menunda pekerjaan dn
selalu ingin cepat diselesaikan.
d. Haus akan prestasi sempurna (
excellence )
e. Tuntas dalam mengerjakan tugas
f. Energik atau penuh semangat dalam
bekerja dan mengerjakan tugas.
g. Paling menyukai pekerjaan yang baru
dan menantang.
h. Kreatif dan inovatif sehingga selalu
mempunyai ide-ide yng cemerlang dan bisa keluar dari tekanan.
4. Perilaku wirausaha dalam menghadapi
risiko.
1. Mengevaluasi risiko dan dampaknya
terlebih dahulu.
2. Mencari keputusan yang tepat dan
optimal.
3. Tidak takut terhadap risiko karena
ia kuat dalam hal institusinya.
4. Waspada dan antisipatif sehingga
selalu berperilaku proaktif.
5. Perilaku wirausaha dalam kemimpinan
( leadership )
a. Seorang pemimpin yang berani
mengambil keputusan.
b. Perilakunya hati-hati karena menjadi
contoh bagi yang lain.
c. Membuat karyawan tenang dalam
menjalankan pekerjaan dan tugasnya.
d. Mempunyai karisma dan berjiwa besar.
6.
Keterampilan
Wirausahawan
1. Keterampilan dasar
a. Keterampilan dalam memimpin
b. Ketrampilan memotivasi tim dan membangun tim yang kuat (
team building ).
c. Keterampilan mengorganisasi tim
d. Keterampilan mengatasi konflik
e. Keterampilan berkomunikasi.
f. Keterampilan merencanankan strategi
usaha.
g. Keterampilan mengatasi kesulitan
menjadi peluang.
2. Keterampilan khusus
a. Keterampilan menjual ( selling skil
)
b. Keterampilan teknis ( untuk produksi
)
Contoh :
§
Usaha
restoran – butuh keterampilan memasak
§
Usaha
properti – butuh keterampilan membangun
§
Usaha
bengkel – butuh ketermpilan mekanika.
3. Ketrampilan-ketrampilan
lain menunjang kompetensi di bidang bisnis
1. Ketrampilan
manajerial (managerial skill)
Digunakan
untuk merencanakan, meaksanakan, dan mengorganisir suatu pekerjaan agar dapat
terselesaikan dengan baik dan tepat waktu.
2. Ketrampilan
konseptual (conseptual skill)
Ketrampilan
dalam merancang suatu rencana, menyusun konsep, dan visi serta misi agar punya
arah yang jelas.
3. Ketrampilan
mengelola sumberdaya manusia (human skill)
Ketrampilan
memahami orang lain, berempati, berkomunikasi, memotivasi, memberi contoh, dan
menjadi teladan bagi orang orang lain serta berelasi dengan pelanggan secara
baik.
4. Ketrampilan
merumuskan masalah dan mengambil keputusan (decision making skill)
Dalam
proses menuju kesuksesan, seseorang tidak luput dari masalah. Oleh sebab itu,
kompetensi wirausaha salah satunya adalah mengambil keputusan yang tepat.
5. Ketrampilan
mengelola waktu (time managemen skill)
Sudah
pasti waktu bekerja kita sangat terbatas dan hanya ada 12 jam saja. Sisanya
adaah untuk kepentingan lainnya. Untuk itu, dalam mewujudkan rencana kerja yang
begitu padat, kita harus pandai-pandai mengelola waktu agar optimal dalam arti
efisiendan efektif.
6. Ketrampilan
teknis (technical skill)
Dalam
setiap jenis bisnis, pasti ada ketrampilan teknis yang diperlukan sebagai
ketrampilan intinya (specialist skill).
Ketrampilan
teknis ini sangat penting sebagai ketrampilan inti dalam membangun kemampuan
kewirausahaan. Ketrampilan inti disebut specialist skill dari the bussiness
Team Skill.
Kemampuan
intelektual intrepeneur adalah tingkat pengetahuan yang tinggi yang dimiliki
seseorang dalam usahanya untuk meraih kesuksesan.
D.
PERILAKU
PEMIMPIN YANG MEMOTIVASI
Kepemimpinan dan motivasi adalah hal yang tidak
dapat dipisahkan. Sulit membayangkan seorang pemimpin yang tidak memotivasi
orang lain. Berikut ini adalah delapan cara memotivasi:
1)
Individu sendiri
harus termotivasi. Seseorang tidak pernah mengilhami orang lain kecuali dia
sendiri terilhami. Hanya seorang pemimpin yang termotivasi yang dapat
memotivasi orang lain.
2)
Pilih orang yang
bermotivasi tinggi. Karena sulit memotivasi orang lain, masuk akal bila kita
memilih orang yang sudah termotivasi.
3)
Perlakukan
setiap orang sebagai individu. Bila kita tidak menanyakan motivasi seseorang –
keinginannya – kita tidak akan mengetahuinya. Kita semua adalah individu. Apa
yang memotivasi seseorang dalam sebuah tim, mungkin tidak memotivasi orang
lain. Lakukanlah semacam dialog dengan setiap individu anggota tim.
4)
Tetapkan sasaran
yang realistis dan menantang.
5)
Ingat, kemajuan
akan memotivasi. Kita ingin menyelesaikan apa yang kita lakukan. Semakin
penting sebuah tugas, semakin kuat kebutuhan untuk menyelesaikannya dengan
memuaskan.
6)
Ciptakan
lingkungan yang memotivasi.
7)
Berikan hadiah
yang adil. Setiap pekerjaan menyiratkan unsur penyeimbang antara apa yang kita
berikan dengan apa yang kita harapkan. Keadilan di sini berarti apa yang kita
peroleh harus sepadan nilainya dengan apa yang kita berikan.
8)
Berikan
pengakuan. Sifat haus akan pengakuan adalah universal. Bagi orang berbakat, hal
ini setara dengan hasrat akan ketenaran atau kejayaan. Raih setiap kesempatan
untuk memberi pengakuan, meski hanya atas upaya yang orang lain tunjukkan. Kita
tidak bisa selalu mengatur hasil yang diharapkan. Lihatlah nilai pekerjaan
orang lain dan tunjukkan penghargaan kepadanya. Seseorang tidak harus menjadi
manajer untuk melakukan ini karena kepemimpinan sejati selalu dapat dipraktikkan
dari posisi paling bawah.
Perilaku
Pemimpin yang efektif:
1) Memberikan contoh kepada para karyawan
2) Menciptakan suatau tatanan nilai dan keyakinan bagi
para karyawan dan dengan 90 Kewirausahaan bergairah mengejarnya
3) Memfokuskan upaya para karyawan terhadap tujuan yang
menantang dan terus mengarahkan mereka kepada tujuan tersebut
4) Menyediakan sumberdaya yang dibutuhkan kayawan untuk
mencapai tujuan mereka
5) Menghargai dan mendukung para karyawan
6) Berkomunikasi dengan para karyawan
7) Menghargai keragaman para pekerja
8) Merayakan keberhasilan para pekerja
9) Mendorong kreativitas diantara para pekerja
10) Memertahankan selera humor
11) Menatap terus
masa depan
E.
PERILAKU
WIRAUSAHA HARUS MEMILIKI POTENSI DIRI
Pengertian Potensi Diri
Pengertian
potensi ialah sesuatu yang dapat dimunculkan, dibangkitkan atau di budidayakan
dari diri pribadi seseorang. Hal ini meliputi dari keseluruhan, baik dari segi
fisiknya, manfaatnya, kegunaan ataupun lainnya. Menurut Wiyono Slamet (2006),
potensi dapat diartikan sebagai kemampuan dasar dari sesuatu yang masih
terpendam di dalamnya yang menunggu untuk diwujudkan menjadi sesuatu kekuatan
nyata dalam diri sesuatu tersebut. Dengan demikian potensi diri manusia adalah
kemampuan dasar yang dimiliki manusia yang terpendam didalam dirinya yang dapat
dimunculkan, diwujudkan, dibangkitkan atau dibudidayakan menjadi suatu manfaat
nyata dalam kehidupan diri manusia. Potensi diri adalah kemampuan dan kekuatan
yang dimiliki oleh seseorang baik fisik maupun mental yang dimiliki seseorang
dan mempunyai kemungkinan untuk dikembangkan bila dilatih dan ditunjang dengan
sarana yang baik, sedangkan diri adalah seperangkat proses atau ciri-ciri
proses fisik,prilaku dan psikologis yang dimiliki. Sedangkan menurut Rona
Binham, potensi diri adalah kemampuan dasar yang dimiliki oleh seseorang yang
masih terpendam dan mempunyai kemungkinan untuk dikembangkan jika didukung
dengan latihan dan sarana yang memadai. Dari pengertian diatas dapat
disimpulkan bahwa potensi diri adalah kemampuan dasar seseorang yang terpendam
dan dapat dikembangkan melalui seperangkat proses. Tujuan dan manfaat
pengenalan dan pengukuran potensi diri tersebut adalah dapat mengungkap misteri
yang ada dalam diri. Mengetahui potensi diri, maka diharapkan seseorang dapat
memaksimalkan potensi yang ada dalam dirinya, diharapkan seseorang dapat
memaksimalkan potensi-potensi positif (kekuatan-kekuatan) yang dimiliki dan
diharapkan mampu meminimalkan kelemahan-kelemahan yang ada.
Mengenali Potensi Diri
Pada
dasarnya setiap manusia memiliki kekuatan dan potensi masing-masing. Tapi
sampai saat ini masih banyak yang belum menyadari potensi di dalam dirinya
sendiri. Padahal potensi setiap orang sangat menunjang kesuksesan hidupnya jika
diasah dengan baik. Berikut cara mengenali potensi diri :
a.
Kenali diri sendiri Coba buat daftar pertanyaan, seperti: apa yang membuat anda
bahagia; apa yang anda inginkan dalam hidup ini; apa kelebihan dan kekuatan
anda; dan apa saja kelemahan anda. Kemudian jawablah pertanyaan ini secara
jujur dan objektif. Mintalah bantuan keluarga atau sahabat untuk menilai
kelemahan dan kekuatan Anda.
b.
Tentukan tujuan hidup Tentukan tujuan hidup anda baik itu tujuan jangka waktu
pendek maupun jangka panjang secara realistis. Realistis maksudnya yang sesuai
dengan kemampuan dan kompetensi anda. Menentukan tujuan yang jauh boleh aja
asal diikuti oleh semangat untuk mencapainya.
c.
Kenali motivasi hidup Setiap manusia memiliki motivasi tersendiri untuk
mencapai tujuan hidupnya. Coba kenali apa motivasi hidup Anda, apa yang bisa
melecut semangat Anda untuk menghasilkan karya terbaik, dan sebagainya.
Sehingga kita memiliki kekuatan dan dukungan moril dari dalam diri.
d.
Hilangkan negative thinking Buanglah pikiran-pikiran negatif yang bisa
menghambat langkah kita mencapai tujuan. Setiap kali Anda menghadapi hambatan,
jangan menyalahkan orang lain. Lebih baik coba evaluasi kembali langkah Anda
mungkin ada sesuatu yang perlu diperbaiki. Kemudian melangkahlah kembali jika
telah menemukan jalan yang mantap.
e.
Jangan mengadili diri sendiri Jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan dalam
mencapai tujuan anda, jangan menyesali dan mengadili diri sendiri
berlarut-larut. Hal ini hanya akan membuang waktu dan energi. Bangkit
dan tataplah masa depan. Jadikan kegagalan
sebagai pengalaman dan bahan pelajaran untuk maju. Masa remaja adalah masa yang penuh gejolak di mana
setiap remaja puteri merasa tertantang untuk mencari jati dirinya sesuai dengan
karakter dan panggilan jiwa. Potensi diri dapat digali dengan tahap mengenali
diri. Bagaimana kita akan dapat menggali potensi dalam diri kita, tanpa kita
mengetahui seperti apa diri kita sendiri.
Apa manfaat pengembangan potensi diri? Manfaat pengembangan
potensi diri adalah mengembangkan kepribadian manusia yang terbentuk karena
pengaruh lingkungan. Pengembangan potensi diri berarti berusaha mengembangkan
kepribadian yang berasal dari dalam/bakat dan dikembangkan setelah berinteraksi
dengan lingkungan dimana seseorang berada.
Selain itu tujuan dan manfaat yang akan diperoleh baik
sebagai individu maupun instansi yang organisasi atau perusahaan, sebagai
berikut:
1.
Bagi Individu:
a. Memberikan gambaran tentang kekuatan dan kelemahan atau
kelebihan dan 30 Kewirausahaan kekurangan
yang ada pada diri.
b. Mengetahui kemampuan yang masih perlu ditingkatkan.
Dengan mengetahui kekuatan dan kelemahan akan diketahui mana potensi yang akan
ditingkatkan mana yang harus dihilangkan atau paling tidak mi kurangi.
c. Mengetahui bidang kerja yang
sesuai dengan kemampuan yang dimiliki.
2.
Bagi Perusahaan atau Instansi:
a. Memberi gambaran yang jelas tentang kemampuan seseorang
atau karyawan.
b. Sebagai referensi untuk penempatan SDM
c. Sebagai referensi dalam human resource planning dan
career planning.
Hambatan-Hambatan Pengembangan
Potensi Diri
Pengembangan
potensi diri seseorang juga sangat tergantung pada pribadi yangbersangkutan dan
lingkungan ia berada. Berikut ini akan disampaikan beberapa hambatan dalam
pengembangan potensi diri:
1. Hambatan yang berasal dari lingkungan
Lingkungan merupakan salah satu faktor penghambat dalam
pengembanganpotensi diri. Hambata-hambatan ini antara lain disebabkan sistem
pendidikan yang anut, lngkungan kerja, tanggapan atau kebiasaan dalam
lingkungan kebudayaan, misalnya adanya pembagian peran suami dan istri yang
lebih merugikan istri;
2. Hambatan yang berasal dari individu sendiri
Penghambat yang cukup besar adalah pada diri sendiri,
misalnya, sikap berprasangka, tidak memiliki tujuan yang jelas, keengganan
mengenal dirinya sendiri. Hal lain adalah tidak mau menerima umpan balik,
kurang mau mengambil risiko, takut situasi, sikap acuh tak acuh, selalu mencari
kambing hitam, dan lain sebagainya.
Hambatan-hambatan
pengembangan potensi diri tersebut adalah sebagai berikut:
a. Ketidakmampuan mengatur diri
b. Nilai pribadi yang tidak jelas
c. Tujuan pribadi yang tidak jelas
d. Pribadi yang kerdil
e. Kemampuan yang tidak memadai
untuk memecahkan masalah
f. Kreativitas rendah
g. Wibawa rendah
h. Kemampuan pemahaman manajerial
rendah
i. Kemampuan menyelia rendah
j. Kemampuan latih rendah
k. Kemampuan membina tim rendah.
Penggalian Potensi Diri 31
Teknik Pengembangan Potensi Diri
Sebuah pertanyaan penting yang perlu dijawab, mau dibawa
kemana hidup kita? Untuk apa kita hidup? Dan apa tujuan hidup kita? Setiap
orang pasti ingin sukses dalam hidupnya. Lalu apa dan siapa yang termasuk
orang-orang sukses itu? Kesuksesan adalah suatu perjalanan yang menciptakan
nilai tambah untuk diri sendiri dan masyarakat sekitar dalam rangka menuju
kehidupan bahagia baik di sunia maupun diakherat kelak.
Sukses
mencakup beberapa hal, yaitu:
1. Pemimpin yang adil dan bijaksana
2. Keimanan yang kokoh
3. Bermanfaat bagi orang lain
4. Keluarga yang bahagia
5. Tubuh yang sehat
6. Bisnis atau karir yang berhasil
7. Hubungan antar manusia berjalan
baik
8. Pertumbuhan dan perkembangan
pribadi
9. Manajemen keuangan yang sukses
10. Hidup yang dinikmati
11. Mampu berbagi dengan orang lain.
Itulah
hal-hal yang menjadi cakupan sukses seseorang. Selanjutnya akan dikemukakan beberapa
aspek yang perlu diperhatikan dalam pengembangan diri menuju sukses. Bukan hanya
aspek fisik saja yang memerlukan gizi, namun dalam pengembangan potensi diri
juga memerlukan gizi, yang dimaksud antara lain:
1. Bergaul lah dengan orang yang bukan satu profesi saja,
agar memperoleh peluangpeluang dan tantangan.
2. Pilihlah teman yang dapat diajak berdiskusi dan tidak
mudah tersinggung, serta mau memberikan feed back terhadap diri kita.
3. Bersikap dan berfikir positif tentang sesama
4. Biasakan mengucapkan kata terimakasih
5. Biasakan mengatakan hal-hal yang menghargai orang lain.
6. Biasakan berbicata efektif.
F.
PENGARUH
PERILAKU KEWIRAUSAHAAN TERHADAP PRODUKTIVITAS
Pentingnya peningkatan produktivitas dapat menunjang
lajunya pertumbuhan ekonomi. Apabila perekonomian tumbuh dan berkembang maka
dapat menciptakan pemerataan kesempatan kerja, perluasan kesempatan baru akan
menambah tingkat pendapatan masyarakat, jika pendapatan masyarakat bertambah
dapat meningkatkan daya beli dan kesejahteraan masyarakat. Peningkatan
produktivitas dapat berarti peningkatan hasil yang akan dicapai dengan
penggunaan sumber daya secara efektif dan efisien.
Dalam suatu produktivitas dibutuhkan tidak sekedar
tenaga kerja, material, modal dan manajemen yang baik tetapi juga dibutuhkan
perilaku kewirausahaan, 30 perilaku kewirausahaan mutlak dikembangkan melalui
pendidikan, latihan, lokakarya dan kesempatan-kesempatan memperolah wawasan
yang lebih luas. Jika seseorang pengusaha telah memiliki perilaku kewirausahaan
maka pengusaha itu telah meyakini perencanaan, pengorganisasian, penggerakkan
dan pengawasan di tunjang dengan kreativitas, keinovasian dan berani mengambil
resiko. Dengan sendirinya tujuan yang hendak dicapai akan terpenuhi Dimana
untuk meningkatkan produktivitas usaha salah satu upaya yang harus dilakukan
yaitu dengan meningkatkan sumber daya internal dan diantara sumber daya
internal yang paling penting adalah perilaku kewirausahaan.
Menurut R.J Gordon yang dialih bahasakan oleh
Wahibur Rokhman (2003:122) mengemukakan bahwa “Kemampuan pemimpin mempunyai
peranan strategis dalam produktivitas sebagai agen perubahan, karena dalam
kemampuan pemimpin ada proses peningkatan mutu yang seimbang, penjualan, dan
hasil-hasil ekonomi yang lain, serta inovasi dalam pengembangan produk dan jasa
baru. Peningkatan kemampauan secara berkesinambungan mampu mencapai
produktivitas yang maksimal”. Produktivitas atau pembelajaran adalah kunci
untuk menciptakan kemakmuran yang lebih besar Ukuran-ukuran produktivitas atau
pembelajaran didasarkan pada kuantitas produk berdasarkan sumber daya, atau
pada prosesproses kerja.
Menurut Peter dan Waterman yang dikutip oleh
Fransesco Sofo dan dialih bahasakan oleh Jusuf Irianto (2003:210) mengemukakan
pendapat yaitu “Produktivitas dicapai melalui orang Terdapat kesepakatan bahwa
perusahaan yang bagus memiliki respek yang tinggi terhadap orang-orangnya,
pimpinan harus memiliki kemampuan untuk memperlakukan orang sebagai sosok
dewasa, mendukung mereka, memberdayakan mereka, dan menghormati mereka”.
Demikian pentingnya produktivitas bagi pencapaian
tujuan organisasi maka perhatian pimpinan terhadap kemajuan maupun kemunduran
usahanya 31 sangat diperlukan untuk mencapai peningkatan produktivitas maka
perlu adanya kemampuan dalam organisasi, melalui kemampuan tersebut maka akan
terjadi peningkatan mutu yang seimbang, penjualan, dan hasil-hasil ekonomi yang
lain, serta inovasi dalam pengembangan produk dan jasa baru.
Dimana bagi peningkatan disiplin kerja,
keterampilan, keahlian, serta kecakapan pengusaha dapat membuat mereka mampu
atau melaksanakan usahanya secara efektif dan efisien. Berdasarkan uraian
diatas dapat disimpulkan bahwa perilaku kewirausahaan berpengaruh dalam
produktivitas. Sehingga para pengusaha dalam menentukan usahanya dituntut untuk
memiliki perilaku kewirausahaan.
G. WIRAUSAHA
MEMILIKI PERILAKU INOVATIF YANG TINGGI
Memiliki perilaku inovatif tinggi
merupakan salah satu kunci dari semangat berwirausaha. Sebenarnya setiap orang
dibekali talenta atau jiwa wirausaha walaupun dalam derajat kapabilitas yang
berbeda-beda. Jika jiwa wirausaha atau talenta tersebut diberikan wadah yang
baik, maka perkembangan dan kemajuannya akan memberikan hasil sebagaimana mana
yang diharapkan. Jiwa wirausaha yang terdapat pada setiap orang itu tumbuh
karena beberapa hal (1) setiap orang pasti memiliki cita-cita, impian dan
harapan untuk meningkatkan kualitas hidup, (2) setiap orang mempunyai intuisi
untuk bekerja dan berusaha, (3) setiap orang mempunyai daya imajinasi yang
dapat digunakan untuk berfikir kreatif, (4) setiap orang mempunyai kemampuan
untuk belajar sesuatu yang sebelumnya tidak dikuasainya. Itulah modal awal dan
faktor dominan yang diberikan oleh TUHAN YANG MAHA ESA kepada manusia dan bukan
makhluk lainnya, sehingga setiap manusia pada dasarnya memiliki akal budi dan
kecerdasan yang merupakan landasan dasar dari jiwa wirausaha.
Manusia juga dikarunia bekal kemampuan
untuk belajar dari pengalaman masa lalunya. Sejumlah pengalaman hidup yang
terkait aspek keberhasilan dan kegagalan, kebahagiaan, kesedihan, kesulitan,
tantangan, peluang, kelemahan dan kekuatan semuanya akan membentuk mind-set
manusia yang dapat menghasilkan perilaku inovatif tinggi khususnya untuk
mengambil keputusan yang terbaik bagi hidupnya yang akan datang.
Setiap orang akan terkait dengan
beberapa perspektif waktu, yaitu masa lalu yang merupakan pengalaman hidup yang
sudah dilaluinya dan sebagai masa untuk melakukan pembelajaran. Saat ini adalah
masa menjadi kenyataan hidup yang sedang dilalui dan menjadi persiapan untuk
masa selanjutnya dengan mengkaji masa lalu, serta masa depan yang menjadi
harapan dan cita-cita yang ingin diraihnya. Ketiga masa itulah yang akan
membentuk manusia memiliki keberanian untuk menyongsong masa depan dengan
berprilaku inovatif yang tinggi.
Drucker dalam Suryana (2003) menjelaskan
bahwa setiap orang yang memiliki keberanian untuk mengambil keputusan dapat
belajar menjadi wirausaha dan berprilaku seperti wirausaha. Hal ini memberikan
pemahaman bahwa kewirausahaan lebih merupakan perilaku daripada gejala kepribadian
yang dasarnya terletak pada konsep dan teori yang mengarahkan orang kepada
kepemimpinan. Padahal perilaku, konsep dan teori merupakan hal yang dapat
dipelajari oleh siapapun yang menganut konsep belajar berkesinambungan dan
seumur hidup. Oleh sebab itu belajar berwirausaha dapat dilakukan oleh siapa
saja, meskipun tidak harus menjadi wirausaha besar namun sekurang-kurangnya
dalam setiap kegiatannya manusia dapat menerapkan jiwa kewirausahaan di
dalamnya. Suatu kenyataan bahwa beberapa wirausahawan terkemuka dan terkaya
dunia bukanlah orang yang mempunyai kemampuan akademik optimal, seperti Warren
Buffet (pialang saham terkemuka) dan Bill Gate (pemilik Microsoft). Khusus di
Indonesia, hasil Sakernas (2003) memperlihatkan bahwa dari lulusan perguruan
tinggi, hanya 26,29% yang menjadi wirausahawan sedangkan untuk lulusan SLTA dan
di bawahnya mencapai 73,71%. Inilah data yang mengindikasikan bahwa di
Indonesia, semakin tinggi pendidikannya semakin rendah jiwa kewirausahaannya.
Kunci keberhasilan kedua wirausahawan
itu (Warren Buffet dan Bill Gate) dalam sejarah tercatat karena beberapa hal
yaitu (1) mempunyai kemauan belajar yang terus menerus, (2) mempunyai ketabahan
dalam menghadapi kegagalan atau tantangan, (3) berani membuat inovasi baru dan
tampil beda dengan yang lain, (4) tidak puas dengan setiap hasil usaha yang
dilakukan, (5) mempunyai kemampuan beradaptasi, baik dengan lingkungan internal
maupun eksternal. Inilah sebabnya maka Ansoff (1990) mengatakan bahwa
“organisasi yang sukses bukanlah organisasi yang besar tetapi organisasi yang
sukses adalah organisasi yang dapat beradaptasi dengan perubahan
lingkungannya”. Suryana (2003) menjelaskan kiat sukses berwirausaha pada
dasarnya tidak memerlukan orang-orang yang luar biasa dengan IQ tinggi, tetapi
orang-orang dengan IQ sedang dan rendahpun dapat belajar melakukannya.
Goleman menjelaskan bahwa kesuksesan
seseorang 80% ditentukan oleh kecerdasan emosional (EQ) dan hanya 20%
ditentukan oleh kecerdasan intelektual (IQ). Kecerdasan emosional adalah kecerdasan
sosial, yang ketiadaannya akan mendorong seseorang berperilaku agresif, cemas,
menghindari tantangan dan tidak dapat memanfaatkan peluang, serta tidak dapat
menerapkan manajemen konflik secara produktif. Sebaliknya, penguasaan terhadap
kecerdasan emosional akan menghasilkan individu yang lebih ramah, kemauan untuk
bekerjasama dan meningkatnya kemampuan untuk menerapkan manajemen konflik yang
produktif. Oleh sebab itu Suryana (2003) menunjukkan adanya kiat-kiat
berwirausaha yang sukses dan dapat diterapkan pada berbagai tingkatan IQ adalah
sebagai berikut :
1) Digerakkan oleh ide dan impian
(visi).
2) Lebih mengandalkan kreativitas.
3) Menunjukkan keberanian.
4) Percaya pada hoki, tetapi lebih
percaya pada dunia nyata.
5) Melihat masalah sebagai peluang.
6) Memilih usaha sesuai hobi dan minat.
7) Mulai dengan modal seadanya.
8) Senang mencoba hal baru.
9) Selalu bangkit dari kegagalan, dan
10) Tidak mengandalkan gelar akademis
semata-mata.
BAB III
PENUTUP
1.1 KESIMPULAN
Dari makalah
diatas dapat disimpulkan bahwa :
1. Berasal dari
kata enterpteneur yang berarti orang yang membeli barang dengan harga pasti
meskipun orang itu belum mengetahui berapa harga barang yang akan dijual.
Wirausaha sering juga disebut wiraswasta yang artinya sifat-sifat keberanian,
keutamaan, keteladanan dalam mengambil resiko yang bersumber pada kemampuan
sendiri. Meski demikian wirausaha dan wiraswasta sebenarnya memiliki arti yang
berbeda . Wiraswasta tidak memiliki visi pengembangan usaha sedangkan wirausaha
mampu terus berkembang dan mencoba usaha lainnya. Istilah lainnya yang semakna
dengan wirausaha adalah wiraswasta. Istilah wiraswasta lebih sering dipakai dan
lebih dikenal daripada wirausaha. Padahal, keduanya bermakna sama dan merupakan
padanan dari kata entrepreneur.
2. Dari beberapa
konsep yang ada. Ada 6 hakekat penting kewirausahaan sebagai berikut,yaitu :
nilai, kemampuan, proses penerapan kreativitas dan inovasi,usaha,sesuatu yang
baru, dan nilai tambah.
3. Perilaku Wirausaha. Perilaku dan
sikap tidak bisa dipisahkan untuk menjadi lebih sempurna karena kedua-duanya
memiliki karakteristik yang berbeda. Sikap itu cara pandangan dan pola piker (
mindset ) atas hal-hal yang dihadapinya, seperti rasa takut, kesulitan, cobaan,
kritik, saran, tekan, dan hambatan yang mendasari sebuah tindakan. Sedangkan
perilaku adalah tidakan dari kebiasaan atas kebenaran yang ia pegang teguh.
1.2 SARAN
Berdasarkan pembahasan diatas, Semoga dapat menambah wawasan akan
perilaku berwirausaha. Jika ada salah kata maupun penulisan mohon saran dan
kritik yang membangun.
DAFTAR PUSTAKA
Anoraga, P
(2007), Pengantar Bisnis: Pengelolaan Bisnis dalam Era Globalisasi,
Rineka Cipta: Jakarta
Arman Hakim
Nasution,dkk (2007) ,”Entrepreneuership membangun Spirit
Teknopreneurship, Penerbit Andi, Yogyakarta.
“Anonim”.
2012. Pengertian Kewirausahaan. diambil dari http:// www.bisnis-
pengertianKewirausahaan.com.